“Aku tau aku memang jahat padanya! Tapi tuhan, sungguh aku tidak pernah berniat melakukan ini padanya! Aku kelepasan! Tuhan tolong pertemukan aku dengannya!” yunho menatap langit sambil bergumam.
Esoknya entah karena dorongan apa, jaejoong kembali dating ke kampus. Mungkin karena ia tak mau terus lari dari yunho lagipula ini sudah minggu kedua ia membolos. Baru saja mencapai pintu kelas. Ia bertemu kembali dengan yunho. Namun, ia tak sudi menatapnya. Ia terlalu jijik dengan orang yang telah merenggut kevirginannya.
“hei…” yunho mencoba untuk menyapanya dengan lembut. Namun jaejoong tidak menggubris dan langsung duduk ke bangkunya. Yunho mengikutinya.
“jae… aku….” Belum selesai yunho bicara, jaejoong langsung pergi. Tapi, tangan putih yang rapuh itu di genggam kuat oleh yunho.
“janagn sentuh aku!” jaejoong berteriak dan menghempaskan lengannya.
“jae… aku mau bicara!” yunho sedikit kesal, namun ia menahan emosinya.
“Aku tidak sudi bicara denganmu!” jaejoong pergi dan berlalu.
“Baiklah kau yang duluan mulai perang!” yunho bergumam.
Jaejoong melangkah santai masuk kedalam kampusnya namun, ia begiti risih dengan tatapan orang2 yang menatapnya dengan pandangan hina, jijik, dan…. Mereka pun menggunjingkan sesuatu.
Begitu ia masuk ke kelas. Ia melihat tulisan dengan huruf besar ‘KIM JAEJOONG ANAK HARAM! IBUNYA SEORAN PELACUR!” melihat tulisan itu jaejoong sontak tercengan, amarah, dan sedih meliputidirinya.
“siapa? Yang melakukan ini?” jaejoong setengah berteriak.
“Aku.. yang melakukannya hei kau anak haram!’ yunho bicara dengan lantang.
PLAAAKK! Emosi jaejoong yang kalap disalurkan dengan tamparan kencang dipi yunho.
“Kau berani beraninya….!!”
BUGHH!!
Yunho membalas dengan tinjuan ke perut jaejoong. Seraya jaejoong runtuh.
Yunho langsung menyuruh temannya mengambil tong sampah di sudut kelas dan menumpahkan isinya pada jaejoong. Disertai teriakan dari teman sekelasnya…
Jaejoong menangis. Tak ada yang menolongnya. Mereka semua menggerecoki jaejoong bahwa dia anak haram. Tangisannya mebuat tubuh lemahnya bergetar. Ia sangat sakit akan hal ini. ‘Mengapa kau belum puas menyakitiku Jung Yunho? Haruskah aku menghilang agar kau berhenti membenciku?’ Teriak jaejoong dalam hati.
Tak kuat dengan ini. Jaejoong berlari pergi meninggalkan kelas.
2 minggu kemudian…
“hei… si anak haram itu katanya mengundurkan diri lho dari sini!” tutur yoochun pada yunho.
“Kim jaejoong?” yunho memastikan.
“iya, katanya dia hamil… tapi masa sih kok bisa ya??”
DEG ! Jaejoong HAMIL?? Mana mungkin ?! Apa jangan jangan dia….
“hei kok melamun?” yoochun menepis kepala yunho.
“tidak, aku pulang yah? Dadah.”
***
Yunho menjalankan mobilnya secepat mungkin. Sehera ia parker mobilnya tepat di lapangan rumah jaejoong. Kebetulan yang menguntugkan, jaejoong baru saja akan masuk kerumahnya ketika yunho langsung menarik tangannya…
“Lepas…kau? Mau apa lagi?!” jaejoong terkejut, dia ketakutan hingga air matanya jatuh lagi.
“Aku ingin bicara jae… kumohon!” dengan lembut yunho berkata.
“urusan kita sudah selesai yunho! Ku mohon… jangan ganggu aku lagi! Aku sudah sangat menderita!” jaejoong mencoba masuk kekamrnya. Dan…
“Urusanku dan anakku belum selesai!” perkataan yunho membuat jaejoong terkejut. Anak? Dari mana dia tau tentang bayi yang dikandungnya?
“a..pa maksudmu? Jaejoong masuk ke kamarnya. Namun, yunho berhasil masuk pula. Jaejoong yang mencoba kabur terhempas ke ranjang ia terduduk disana. Dihadapannya yunho berdiri tegak.
“katakanlah padaku! Dia anakku kan?”
“Bukan”
“Bohong!”
“Tidak!”
“Kim Jae Joong!”
“dia bukan anakmu! Dia bukan anak siapa siapa! Berengsek!” jaejoong menangis sejadi jadinya.
“Jae… jangan katai aku seperti itu. Anakmu tidak mau jika ia punya ayah yang brengsek kan?”
“sudah ku bilang dia BUKAN ANAKMU! BAJINGAN!”.
Yunho terhenyak mendengar umpatan dari jaejoong. Amarah membara seketika.
“aku mencoba untuk meminta maaf dan membuatmu senang. Tapi apa yg kudapat? Tak tahu diuntung! Seharusnya kau itu mati saja dengan keluargamu! Harusnya kau tak perlu dilahirkan saja! Kau itu tidak diterima dimana mana! Mati saja kau!” yunho berteriak menyumpahi jaejoong. Jaejoong yang mendengar itu langsung menangis sekencangnya. Namun, ketika ia melihat gunting yang tergeletak di atas meja. Ia meraihnya.
“yah, kau inginkan ini? Aku akan melakukannya sepenuh hati. Jika kau senag aku mati. Aku tidak atahu apa salahku padamu. Tapi… aku akan membuatmu senang dengan kematianku. Kau benar harusnya aku mati saja. Maka aku akun mati sekarang.” Jaejoong tersenyum lembut pada yunho. Yunho yang memperhatikan kelakuan jaejoong langsung terkejut ketika jaejoong mengarahkan gunting keperutnya.
Dan….
“Jangan!!!” yunho mencoba mencegahnya dan gunting itu pun terjatuh. Jaejoong meronta. Ia mencoba meraih gunting itu kembali. Namun yunho memeluknya erat.
“AHHHHHHHH!!!!” jaejoong berteriak frustasi.
“Kenapa yunho? Kenapa? Kenapa kau tidak biarkan aku mati saja?!”
“bodoh.. aku tidak mau kau mati…”
“aku sudah lelah yun… aku lelah untuk terus begini… biarkan aku menyusul ibuku!” jaejoong berteriak kencang puncak frustasi telah sampai padanya.
Yunho mempererat pelukannya berusaha menenangkan jaejoong. Tubuh jaejoong yang gemetaran itu membuat hatinya merasa sakit. Sakit karena ia membuat malaikat ini menangis seperti ini.
“mianhae jae, mianhae. Jongmal mianhae!” yunho berbisik di telinga jaejoong. Beberapa menit kemudian jaejoong pun berhenti menangis dan tidur di pelukan yunho.
***
“kau sudah bangun boo?” yunho membelai rambut jaejoong ketika melihat jaejoong telah bangun.
“Kau haus? Mau minum?”
Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan lemah. Tatapan matanya yang kosong seolah berusah menyampaikan keadaannya saat ini.
Menyadari jaejoong seang sangat frustasi, ketakutan, sedih. Ia merasa menyesal. Hanya karena ia iri pada jaejoong yang selalu bisa diperhatikan appanya. ia menyakitinya selama bertahun tahun bahkan memperkosanya. Yunho menyesal karena selama ini ia hanya membuat penderitaan yang mendalam pada jaejoong.
“Boo, aku… ini… lihatlah ini.” Yunho mengeluarkan kotak dengan beludru biru ditangannya. Jaejoong memperhatikannya dan ketika yunho membukanya. Ia bisa melihat sepasang cincin ada didalamnya.
“yun itu….” Jaejoong mebuka bibir kecilnya itu.
“Untuk mengikat dirimu dan aku, boo….”
-FIN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar